Medan, Kompas 20 Agustus 2008 - Pengelola museum di Sumatera Utara mengalami kesulitan pendanaan. Saat ini dari 15 museum yang ada, sembilan museum telah mati, tiga museum di antaranya mengalami penurunan jumlah pengunjung, sedangkan tiga museum masih aktif beroperasi.
”Sebagian besar museum memang mati. Akar persoalannya pada kurangnya dana pengelolaan. Ini terjadi karena museum masih ditempatkan masyarakat sebagai tempat untuk menyimpan benda-benda kuno,” kata Ketua Asosiasi Museum Indonesia (AMI) Sumut Ichwan Azhari, Selasa (19/8) di Medan.
Keberadaan museum, tuturnya, tidak hanya menyimpan benda kuno bersejarah. Namun, museum lebih berfungsi sebagai tempat transformasi sejarah pada generasi berikutnya. Kondisi ini diperparah oleh ketidakpedulian pemangku kepentingan pada sejarah.
”Museum belum banyak yang berfungi sebagai tempat yang menyenangkan. Lantaran itu perlu pengelolaan yang profesional di masing-masing museum,” katanya. Pengelolaan yang asal-asalan membuat masyarakat menjadi enggan pergi ke museum.
Museum yang mati, dalam data AMI Sumut, antara lain Museum Rumah Bolon di Kabupaten Simalungun, Museum Balige di Tapanuli Utara, Museum Balai Budaya Batak di Tapanuli Utara, Museum Karo Lingga di Kabupaten Karo, Museum Juang 45 di Medan, Museum Simalungun di Pematang Siantar, Museum Virtual Kota Medan, Museum Pers Sumut di Medan, dan Museum Barus di Tapanuli Tengah.
Salah satu museum yang mati adalah Museum Juang 45 di Jalan Pemuda Nomor 17, Medan. Museum ini tidak lagi berfungsi sebagai museum, melainkan sebagai Kantor Dewan Harian Djuang (DHD) 45 Sumatera Utara. Museum yang menempati lantai dua gedung ini kosong, hanya tersisa gambar para pahlawan. Ruangan ini tampak lusuh seperti jarang dibuka.
Hasan (59), penjaga gedung, mengatakan, museum memang tidak lagi berfungi. Sebagian besar koleksi museum kini berada di Museum Negeri Sumatera Utara. Gedung ini hanya buka mulai pukul 12.00 sampai pukul 15.00. Gedung ini bersejarah lantaran menjadi tempat persiapan pengumuman proklamasi di Medan. Gedung ini pernah menjadi markas Badan Oentoek Membantoe Perang Asia (BOMPA).
Salah satu museum yang dinilai mati adalah Museum Pers Sumatera Utara di Jalan Sei Alas Nomor 6. Museum yang menempati rumah tokoh pers Muhammad TWH ini nyaris tidak pernah ada pengunjung. (NDY)
No comments:
Post a Comment