18 August 2011

Makam Mahligai Barus Perlu Renovasi

Waspada Online BARUS – Pemerintah diharapkan merenovasi makam mahligai di Desa Dakka, Kecamatan Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, yang saat ini kurang mendapat perawatan sehingga dikhawatirkan akan hancur.

Juru kunci peninggalan yang memiliki nilai sejarah cukup tinggi itu, Jaharuddin Pasaribu, di Barus, kemarin, mengatakan, makam kuno perlu dilestarikan agar dapat dikenal oleh pelajar dan generasi muda.

Menurut dia, makam mahligai tersebut merupakan bukti peninggalan sejarah bahwa Kota Barus merupakan tempat pertama masuknya agama Islam di wilayah Pantai Barat Sumatera.

“Jadi kuburan yang terdapat di makam mahligai yang berada di atas bukit itu, memiliki panjang lima meter dan lebar tiga meter adalah orang-orang-orang Arab Saudi yang mengembangkan ajaran Islam di Barus,” kata Pasaribu.

Dia mengatakan, kerusakan yang terdapat di makam mahligai tersebut, misalnya batu nisan yang telah berusia ratusan tahun itu kelihatan banyak yang retak dan pecah-pecah.

“Jadi, sudah sewajarnya lah makam mahligai tersebut mendapat perbaikan dari pihak pemerintah. Siapa lagi yang akan merehab peninggalan itu, selain pemerintah.Ini agar secepatnya dilakukan,” kata juru kunci yang sudah 31 tahun bertugas di makam tersebut.

Dia menjelaskan, makam mahligai yang memiliki luas 1,5 hektare itu terletak di atas perbukitan di Desa Dakka atau 448 Kilometer arah Timur Kota Medan.

Nama makam ini konon diambil dari kata “mahligai” yang artinya sama dengan “istana kecil” di zaman dahulu.

Makam mahligai didirikan oleh Tuan Syekh Siddiq, setelah dirinya mangkat jenazahnya juga dikebumikan di kompleks pemakaman tersebut. Jumlah makam yang terdapat di tempat bersejarah itu, diperkirakan lebih kurang 215 makam dengan batu nisan yang besar dan kecil. Makam tersebut ditandai dengan ukiran bergaya arab.

Selain itu, kata Pasaribu yang juga putera Barus, salah satu makam di kompleks ini adalah Tuan Syekh Rukunuddin, yang wafat malam 13 Syafar, tahun 48 Hijriah (48 H) abad ke 7 Masehi, dalam usia 102 tahun, 2 bulan, dan 10 hari.

Dari berbagai ukiran yang terdapat di batu nisan itu, yakni aksara Arab kuno, aksara Parsi banyak yang sudah tidak dapat terbaca lagi bagi wisatawan dan pengunjung yang datang ke lokasi itu, jelasnya.

“Masyarakat Islam Barus berkeyakinan pada sekitar abad ke-7 Masehi, Agama Islam telah ada di Kota Tua Barus dan sekaligus berpendapat bahwa di Barus inilah awal mulanya Islam masuk ke Indonesia,” katanya.

Pedagang dari Arab
Salah seorang warga Barus, J Manullang (55), mengatakan, kedatangan Syekh dari Arab Saudi ke Kota Tua Barus awal mulanya hanya berdagang.

Selain itu, jelasnya, orang Arab tersebut juga bertujuan mengembangkan ajaran agama Islam di daerah Barus.

Di makam mahligai tersebut, menurut dia, juga terdapat makam Syekh Imam Khotil Muazamsyah Biktibai, Syekh Samsuddin Min Biladil Fansuri, Syekh Zainal Abidin, Syekh Ilyas, dan Syekh Samsuddin.

Dia mengatakan, warga Barus lebih mengenal makam mahligai dan makam lainnya dengan sebutan makam “Aulia 44″ (empat puluh empat).

Tulisan kecil yang terdapat pada batu nisan makam mahligai beraksara Arab berisikan potongan ayat suci dalam Al Quran sering dianggap sebagai tempat yang memiliki nilai religius tinggi.

“Masyarakat dari Medan, Jakarta, Bandung dan luar negeri seperti Malaysia dan Brunei Darussalam sering berkunjung ke makam mahligai tersebut,” kata Manullang.

No comments:

Post a Comment

Barus